...

Konsep Routing

Konsep Routing

A. Mengapa perlu router?

Sebelum kita pelajari lebih jauh mengenai bagaimana konsep routing, kita perlu memahami lebih baik lagi mengenai beberapa aturan dasar routing. Juga tentunya kita harus memahami sistem penomoran IP, subnetting, netmasking dan saudara-saudaranya yang lain.

Contoh kasus:


Host X (IP Kelas B network id x.x) Host Y (IP kelas B network id x.x) Host Z (IP kelas B network id x.x) Pada kasus di atas, host X dan host Y dapat berkomunikasi langsung tetapi baik host X maupun Y tidak dapat berkomunikasi dengan host Z, karena mereka memiliki Network Id yang berbeda. Bagaimana supaya Z dapat berkomunikasi dengan X dan Y? gunakan router!

Contoh lain:


Host A subnet mask Host B subnet mask Host C subnet mask

Nah, ketika subnetting dipergunakan, maka dua host yang terhubung ke segmen jaringan yang sama dapat berkomunikasi hanya jika baik Network ID maupun subnetid-nya sesuai. Pada kasus di atas, A dan B dapat berkomunikasi dengan langsung, C memiliki Network ID yang sama dengan A dan B tetapi memiliki subnetmask yang berbeda. Dengan demikian C tidak dapat berkomunikasi secara langsung dengan A dan B. Bagaimana supaya C dapat berkomunikasi dengan A dan B? gunakan router!

Jadi fungsi router, secara mudah dapat dikatakan, menghubungkan dua buah jaringan yang berbeda; tepatnya mengarahkan rute yang terbaik untuk mencapai network yang diharapkan.

Dalam implementasinya, router sering dipakai untuk menghubungkan jaringan antar lembaga atau perusahaan yang masing-masing telah memiliki jaringan dengan Network ID yang berbeda.

Contoh lainnya yang saat ini populer adalah ketika sebuah perusahaan akan terhubung ke internet. Maka router akan berfungsi mengalirkan paket data dari perusahaan tersebut ke lembaga lain melalui internet, sudah barang tentu nomor jaringan perusahaan itu akan bereda dengan perusahaaan yang dituju.

Jika sekedar menghubungkan 2 buah jaringan, sebenarnya anda juga dapat menggunakan PC berbasis windows NT atau Linux, dengan memberikan 2 buah network card dan sedikit setting, maka anda telah membuat router praktis. Namun tentunya dengan segala keterbatasannya. Di pasaran sangat beragam merek router, antara lain baynetworks, 3com, Cisco, dll.

B. Routing Statik dan Dinamik  

Secara umum mekanisme koordinasi routing dapat dibagi menjadi dua, yaitu: routing statik dan  routing dinamik.  

Pada routing statik, entri-entri dalam forwarding table router diisi dan dihapus secara manual,  sedangkan pada routing dinamik perubahan dilakukan otomatis melalui protokol routing.  

Routing statik adalah pengaturan routing paling sederhana yang dapat dilakukan pada jaringan  komputer. Menggunakan routing statik murni dalam sebuah jaringan berarti mengisi setiap entri  dalam forwarding table di setiap router yang berada di jaringan tersebut.  

Penggunaan routing statik dalam sebuah jaringan yang kecil tentu bukanlah suatu masalah, hanya  beberapa entri yang perlu diisikan pada forwarding table di setiap router. Namun Anda tentu dapat  membayangkan bagaimana jika harus melengkapi forwarding table di setiap router yang jumlahnya  tidak sedikit dalam jaringan yang besar. Apalagi jika Anda ditugaskan untuk mengisi entri-entri di  seluruh router di Internet yang jumlahnya banyak sekali dan terus bertambah setiap hari. Tentu repot  sekali!  

Routing dinamik adalah cara yang digunakan untuk melepaskan kewajiban mengisi entri-entri  forwarding table secara manual. Protokol routing mengatur router-router sehingga dapat  berkomunikasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi routing yang dapat mengubah  isi forwarding table, tergantung keadaan jaringannya. Dengan cara ini, router-router mengetahui  keadaan jaringan yang terakhir dan mampu meneruskan datagram ke arah yang benar. Dengan kata  lain, routing dinamik adalah proses pengisian data routing di table routing secara otomatis.  Berikut ini tabel perbedaan yang spesifik untuk kedua jenis routing.

Tabel Perbedaan routing statik dan routing dinamik



Rangkuman  

Konsep subnetting dari IP Address versi 4 merupakan teknik yang umum digunakan di Internet untuk  mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan  IP Address.  

Subnetting merupakan proses memecah satu kelas IP Address menjadi beberapa subnet dengan  jumlah host yang lebih sedikit, dan untuk menentukan batas network ID dalam suatu subnet,  digunakan subnet mask.

Fungsi router secara sederhana adalah menghubungkan dua buah jaringan yang berbeda; tepatnya  mengarahkan rute yang terbaik untuk mencapai network yang diharapkan.  CIDR merupakan konsep baru untuk mengembangkan Supernetting dengan metode Classless InterDomain Routing.

CIDR menghindari cara pemberian IP Address tradisional menggunakan klas A, B  dan C. CIDR menggunakan “network prefix” dengan panjang tertentu. Prefix-length menentukan jumlah “bit sebelah kiri” yang akan dipergunakan sebagai network ID.  

Jika suatu IP Address memiliki 16 bit sebagai network ID, maka IP address tersebut akan diberikan  prefix-length (network prefix) 16 bit yang umumnya ditulis sebagai /16 dibelakang IP Address,  contoh: 202.152.0.1/18.  

Jika diperhatikan, CIDR dan metode VLSM mirip satu sama lain, yaitu blok network address dapat  dibagi lebih lanjut menjadi sejumlah blok IP address yang lebih kecil. Perbedaannya adalah CIDR  merupakan sebuah konsep untuk pembagian blok IP Public yang telah didistribusikan dari IANA,  sedangkan VLSM merupakan implementasi pengalokasian blok IP yang dilakukan oleh pemilik  network (network administrator) dari blok IP yang telah diberikan padanya (sifatnya local dan tidak  dikenal di internet).  

Jika pada pengalokasian IP address classfull, suatu network ID hanya memiliki satu subnetmask,  maka VLSM menggunakan metode yang berbeda, yakni dengan memberikan suatu network address  lebih dari satu subnetmask.  

Sebelum melakukan subnetting, hal yang kita harus kita tentukan terlebih dahulu adalah seberapa  besar jaringan kita saat ini, serta kemungkinannya dimasa mendatang.  

Routing statik menggunakan routing statik murni dalam sebuah jaringan, hal ini berarti mengisi setiap  entri dalam forwarding table di setiap router yang berada di jaringan tersebut.  

Routing dinamik merupakan cara yang digunakan untuk melepaskan kewajiban mengisi entri-entri  forwarding table secara manual. Protokol routing mengatur router-router sehingga dapat  berkomunikasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi routing yang dapat mengubah  isi forwarding table, tergantung keadaan jaringannya. Dengan cara ini, router-router mengetahui  keadaan jaringan yang terakhir dan mampu meneruskan datagram ke arah yang benar. Dengan kata  lain, routing dinamik adalah proses pengisian data routing di table routing secara otomatis.

Daftar Pustaka
  1. http://www.apjii.or.id/  
  2. http://distancelearning.ksi.edu/demo/520/cis520.htm  
  3. http://www.pemula.com/materi/cisco01_konsep_pemula.htm, yerianto@yahoo.com  
  4. Implementing IP Routing By Todd Lammle, with Monica Lammle and James Chellis.  http://www.microsoft.com/technet/archive/winntas/deploy/implip.mspx  
  5. Konsep Subnetting IP Address Untuk Effisiensi Internet, Aulia K. Arif & Onno W. Purbo, Computer Network  Research Group ITB, 2000 - http://bebas.vlsm.org/v09/onno-ind-1/network/konsep-subnetting-ip-addressuntuk-effisiensi-internet-11-199.zip,  
  6. Pengantar Jaringan Komputer, Melwin Syafrizal, Andi Offset, Jogja, 2005  Routing Protocols and the Configuration of RIP and IGRP (Cisco CCNA Exam #640-607 Certification Guide",  by Wendell Odom, Cisco Press)  
  7. TCP/IP dan Implementasinya, Onno W Purbo, Adnan Basalamah, Ismail Fahmi, Achmad Husni T, Elexmedia  Komputindo 1999.



Post Comments(0)

Leave a reply